Dokter: Pembentukan Karakter Anak Dipengaruhi Kuat oleh Pola ‘Asah Asih dan Asuh’ Orangtua

Dokter: Pembentukan Karakter Anak Dipengaruhi Kuat oleh Pola ‘Asah Asih dan Asuh’ Orangtua

Membangun sebuah keluarga yang memiliki hubungan sehat antara ayah, ibu serta anak anak merupakan dambaan bagi banyak orangtua. Baik atau buruknya perilaku anak tentunya turut dipengaruhi pula oleh pola parenting dari orangtuanya. Begitu pula dengan terpenuhi atau tidaknya nutrisi anak dari makanan yang dikonsumsi.

Semua itu bergantung pada bagaimana cara orangtua dalam mengasuh anak. Lalu seperti apa tanggapan ahli terkait pola parenting yang baik bagi anak? Dokter Spesialis Anak di Brawijaya Hospital Tangerang, dr. Prima Evita Juwitasari, Sp.A., mengatakan bahwa kebutuhan dasar anak dapat dikelompokkan pada istilah 'asih, asah, dan asuh'.

Ia kemudian menjelaskan, kebutuhan anak yang termasuk dalam kategori asuh meliputi pangan, nutrisi, pemenuhan kesehatan dasar, kebersihan dan sanitasi, sifatnya untuk pemenuhan kebutuhan fisik. "Sedangkan asih, kebutuhan kasih sayang yang lengkap dan erat dari ayah dan ibu, baik secara fisik dan psikis, namanya basic trust," jelas dr. Prima, dalam talkshow kesehatan 'Dual Parenting untuk Pengasuhan pada Anak' yang diadakan Brawijaya Hospital Tangerang di Mall Living World Alam Sutera, Tangerang, Sabtu (23/7/2022). Menurutnya, komunikasi antara ayah dan ibu sangat penting untuk memberikan jaminan agar anak merasa dicintai, diterima dan aman bersama orangtuanya.

Selanjutnya ada asah yang berfungsi untuk menstimulasi mental demi menunjang perkembangannya. "Anak perlu diajari berbicara, merangkai kata dan stimulasi spiritual seperti berdoa, beribadah, ke masjid, ke gereja, dan lingkungannya. Ini sangat menunjang kecerdasan dan keterampilannya, kreatifitasnya," tegas dr. Prima. Lebih lanjut dr. Prima menjelaskan bahwa pola asuh yang dilakukan orangtua memiliki pengaruh yang kuat dalam tumbuh kembang anak.

Karena dapat mempengaruhi pembentukan kepribadian anak anak. "Pola asuh adalah cara orang tua memperlakukan, berkomunikasi dan mengekspresikan emosi pada anak," papar dr. Prima. Terkait hal ini, kata dia, ada 4 macam pola asuh yang harus diselaraskan antara ayah dan ibu agar tidak terjadi salah paham.

1. Pola asuh otoriter Dr. Prima menilai bahwa orangtua dengan tipe pola asuh seperti ini sangat memegang kendali dalam pengasuhan anak. "Cenderung keras, tegas, memiliki banyak aturan dan memiliki standar yang tinggi kepada anak," tutur dr. Prima.

Pola asuh ini mengharapkan anak bersikap sangat patuh terhadap orang tua, dan banyak orang tua tipe ini bahkan menuntut prestasi akademik yang tinggi kepada anak. Namun yang perlu dicatat adalah pola asuh seperti ini akan membentuk karakter anak menjadi orang yang cenderung tidak percaya diri dan takut dalam menyampaikan pendapatnya. "Efeknya, anak kurang percaya, sisi keberhargaan diri agak rendah, cenderung tidak berani menyampaikan pendapat," tegas dr. Prima.

2. Pola asuh permisif Pola asuh satu ini cenderung 'terbalik' dari pola asuh otoriter, karena orangtua yang menerapkan pola asuh permisif cenderung memberikan kebebasan kepada sang anak. Namun dampak buruknya adalah sang anak akan bersikap tidak disiplin dan egois, karena kesehariannya yang selalu diberikan kebebasan oleh orangtua.

"Anak sangat diberikan kebebasan, orang tua memberikan semua keinginan anak. Anak jarang dihukum, tidak pernah diberikan perintah. Anak selalu dipuji dan memberikan apa yang anak minta. Anak jadi tidak disiplin dan anak cenderung manja, egois dan tidak peduli orang tua," kata dr.Prima. 3. Pola asuh mengabaikan Pola asuh mengabaikan cenderung dilakukan oleh orang tua yang mengalami stres dan depresi.

"Pola asuh diserahkan ke orang lain atau pengasuh, orang tua jadi tidak mengerti dengan anak dan kurang komunikasi. Pola asuh seperti ini menyebabkan anak punya sosialisasi yang rendah," jelas dr. Prima. 4. Pola asuh otoritatif Orangtua yang menerapkan pola ini cenderung bersikap hangat namun tegas, ada aturan sekaligus ada pula pujian.

"Kalau anak berprestasi dan berperilaku baik, ada hadiah dari orangtua. Jika anak melakukan kesalahan, ada sanksi sesuai usia anak. Orang tua dan anak punya komunikasi dan kompromi, jika ada aturan ditanyakan lagi kepada anak," papar dr. Prima. Menurutnya, ada sisi diskusi dan kompromi antara orang tua dan anak dalam pola asuh seperti ini. "Harga diri anak akan dianggap, lebih percaya dan bersosialisasi dengan baik," pungkas dr. Prima.

Dalam talkshow tersebut, diluncurkan pula Kartu Komunitas (Community Card). Kadiv Non Medis Brawijaya Hospital Tangerang, Rika Ermasari, S.Psi., mengatakan bahwa Kartu Komunitas merupakan kartu keanggotaan atau membership yang diterbitkan oleh Brawijaya Hospital Tangerang untuk komunitas yang telah bekerja sama dengan rumah sakit itu. "Manfaatnya adalah adanya diskon yang diberikan baik untuk rawat jalan dan rawat inap. Yang membedakan antara member kartu ini dengan pasien yang tidak menggunakan ini adalah diskon rawat inap dan rawat jalan, mendapat kuota yang didahulukan, penjemputan atau pengantaran jika dibutuhkan, dan asistensi dalam berobat," kata Rika. (*)

Artikel ini merupakan bagian dari KG Media. Ruang aktualisasi diri perempuan untuk mencapai mimpinya.

Leave a Reply

Your email address will not be published.

Previous post Baim Wong Daftarkan HAKI Citayam Fashion Week, Ridwan Kamil: Tak Semua Urusan Dunia Dilihat Komersil